Semarang

Semarang City
 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  GroupGroup  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  

Share | 
 

 Pijat plus-plus selain oleh perempuan juga Kaum gay di Semarang

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 96
Join date : 25.04.11

PostSubyek: Pijat plus-plus selain oleh perempuan juga Kaum gay di Semarang    Wed Jan 18, 2012 7:17 pm

Mengintip Pijat Gay di Semarang (1) Tarifnya Rp 130 Ribu Per Jam, Tak Bisa Ditawar

Pijat plus-plus tak melulu dilakukan oleh perempuan. Kaum gay di Semarang juga punya tempat pijat khusus untuk memuaskan hasrat biologis mereka. Wartawan Suara Merdeka, Hadziq Jauhary, Yoseph Hary W, dan Roosalina, melakukan penelusuran.

DI siang hari yang bersaput mendung, kami membuat janji kencan dengan seseorang di sebuah hotel melati di Kota Semarang. Dengan berkendara sepeda motor, kami menyambangi penginapan yang terletak di pinggir jalan protokol itu.

Ini bukan kencan biasa, sebab orang yang hendak kami kencani adalah seorang pemijat gay. Butuh keberanian ekstra untuk menemui lelaki yang sebut saja bernama Irfan itu. Meski sebelumnya telah berusaha menguatkan mental, saat sampai di depan hotel, nyali kami tak urung ciut juga. Maklum, kami lelaki normal yang baru kali pertama berkencan dengan kaum penyuka sesama jenis.

Di bagian depan hotel yang kurang terawat itu, sejumlah lelaki tampak berkumpul. Sebagian mengenakan kaos oblong, sebagian lainnya bertelanjang dada.

Para lelaki itu berbincang akrab diselingi gelak tawa. Beberapa duduk berimpit, di luar kelaziman. Saat kami masuk ke dalam hotel, salah seorang dari mereka langsung menyapa. ”Cari siapa, Mas?”

Dengan bibir sedikit bergetar, kami pun menyebut nama Irfan. Tanpa banyak tanya lagi, lelaki berkaos ketat itu segera menunjukkan tempat Irfan berada. Singkat cerita, kami pun bertemu dengan Irfan di salah satu ruangan cukup luas. Sebagai gambaran, Irfan memiliki tubuh lumayan kekar. Otot-otot tubuhnya menonjol, menandakan ia rutin berolahraga.

Gayanya perlente: berkaus ketat, celana jeans, dengan potongan rambut rapi. Secara umum, sosok Irfan cukup mewakili laki-laki yang diidolakan perempuan.

Seusai berjabat tangan, Irfan segera memberondong kami dengan sejumlah pertanyaan. ”Tahu dari siapa, Mas? Dari teman atau baca iklan? Kenapa Mas tertarik ke sini?” serta beberapa pertanyaan lain.

Kami pun mencoba menjawab pertanyaan itu dengan tenang. Setelah berbincang cukup lama, Irfan mulai bersikap terbuka. Ia pun bercerita banyak mengenai profesi yang digelutinya.

Tertutup

Pijat plus khusus gay, kata dia, masih bersifat tertutup. Hanya kalangan tertentu saja yang bisa mengakses pelayanan itu. Sejauh ini, informasi mengenai pijat gay lebih banyak melalui getok tular.

Pernah pula memasang iklan di media massa, baik cetak maupun internet. Namun seringnya, ”konsumen” mereka ialah pelanggan tetap yang minimal seminggu sekali meminta pijat plus.

Obrolan dengan Irfan di awal pertemuan itu tetap berlangsung, disusul perkenalan kami dengan beberapa kawannya di sana. Satu persatu, dari balik pintu kamar hotel, para lelaki pemijat menampakkan diri, mengulurkan tangan, menyebutkan nama, sembari melempar senyuman selamat datang. Terpaksa, kami pun membalas senyum mereka sewajar mungkin.

Dari pengamatan, dandanan para lelaki pemijat plus, nyaris serupa. Pemandangan sekilas, seakan mengisyaratkan bahwa mereka siap melayani sewaktu-waktu pelanggan datang. ”Yang pertama menyalami tadi luar biasa pelayanannya. Tenaga kuat, mau nembak juga bisa. Atau mau yang sedikit berondong? Mas boleh memilih sendiri salah satu dari kami. Tarifnya sama, Rp 130 ribu per jam, ditambah tipsnya, terserah mau ngasih berapa. Pelayanan sesuai permintaan. Itu memang tarif standar di Semarang, tak seperti di Jakarta yang minimal mencapai Rp 200 ribu belum tipsnya,” katanya blak-blakan.

Soal lobi melobi di ranah per-syahwat-an sesama jenis, jelas kami bukan ahlinya. Awalnya, kami meluncurkan tawaran Rp 100 ribu sudah termasuk tips. Tapi ternyata gagal. Menurutnya, tarif segitu lebih banyak untuk membayar satu kamar yakni Rp 85 ribu perhari dan sisanya untuk si pemijat tanpa melalui germo.

”Kalau pakai germo, pasti lebih mahal lagi, mas. Paling murah, bisa mencapai Rp 175 ribu,” ungkapnya.

Kami sempat menanyakan tempat praktik serupa di kota ini, dengan alasan menginginkan harga lebih rendah. Seorang pria pemijat lainnya yang kemudian ikut bergabung dalam obrolan kami siang itu, sebut saja Rendy, menuturkan jumlah mereka sebenarnya banyak, tersebar di luar penginapan. Bahkan, jaringan antarkota sesama pria pemijat plus, amat kuat, di antaranya di Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota di luar Pulau Jawa.

Untuk Kota Semarang sendiri, praktik semacam itu belum terlalu ramai. Namun, ada peluang besar untuk mengembangkan pijat gay di Kota Atlas ini. Melalui jaringan antarkota itu pula, personel baru bisa didatangkan kapanpun sesuai kebutuhan. Penambahan personel itu menurutnya sangat mungkin terjadi, mengingat di kota ini banyak pendatang yang notabene para eksekutif muda dari kota-kota besar seperti Jakarta.

Di sela-sela tugas mereka di Kota Semarang, para eksekutif muda itu sering memakai jasa pijat gay. Tentu saja dengan pelayanan panggilan. Atau menjemput mereka di tempat mangkal sekitar Simpanglima. Beberapa hotel sedikit berkelas yang disebut sebagai tempat berkencan gay, yakni di Jl Pemuda dan Jl Agus Salim. (67)

Sumber: http://suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=127998
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://freedownload-eky.forums1.net
 
Pijat plus-plus selain oleh perempuan juga Kaum gay di Semarang
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Semarang :: Semarang-
Navigasi: